Beranda / Nasional / Epidemi Kesepian di Zaman Paling Terhubung

Epidemi Kesepian di Zaman Paling Terhubung

 

Bersamalah dengan mereka yang membantu keberadaanmu. Bergaullah dengan mereka yang membuat dirimu menjadi lebih diri sendiri.

โ€” Jalal ad-Din Rumi, Masnavi

 

Di sebuah kafe di kota besar, empat orang duduk satu meja. Tidak ada yang bicara. Masing-masing memandang layar di genggaman tangan, menggulir sesuatu yang mereka sendiri tidak terlalu yakin apa. Sesekali ada yang tersenyum kecil pada layarnya. Tetapi tidak ada yang tersenyum kepada yang duduk di seberangnya. Mereka terhubung ke seluruh dunia, dan sepi di antara satu meja.

Badan Kesehatan Dunia menyebut kesepian sebagai salah satu ancaman kesehatan publik terbesar saat ini. Bukan karena manusia tidak punya cukup koneksi internet. Melainkan karena kedalaman hubungan antar manusia, yang sesungguhnya memerlukan waktu, kehadiran, dan kerentanan, semakin langka di zaman yang mengukur hubungan dari jumlah pengikut dan tanda suka.

Kita adalah generasi yang paling terhubung secara teknis dalam sejarah manusia, dan secara bersamaan mungkin yang paling kesepian secara emosional. Itu bukan kebetulan. Itu hasil dari sebuah desain: desain platform yang mengoptimalkan keterlibatan, bukan keintiman. Desain kota yang mengoptimalkan efisiensi, bukan perjumpaan. Desain kerja yang mengoptimalkan produktivitas, bukan solidaritas. Kita merancang segala sesuatu untuk cepat dan efisien, lalu heran bahwa hubungan yang bermakna terasa semakin sulit dijumpai.

Kesepian bukan hanya perasaan tidak menyenangkan. Ia memiliki konsekuensi kesehatan yang serius: meningkatkan risiko depresi, gangguan kecemasan, bahkan penyakit fisik tertentu. Seseorang yang kesepian kronis mengalami tekanan fisiologis yang mirip dengan seseorang yang merokok lima belas batang rokok sehari. Ini bukan metafora. Ini temuan riset medis yang diulangi di berbagai negara.

Yang lebih menyedihkan adalah bahwa kesepian memiliki stigma. Mengakui bahwa kita kesepian terasa seperti mengakui bahwa kita gagal sebagai manusia sosial. Sehingga banyak orang menyembunyikannya di balik kesibukan yang dipertontonkan. Di balik posting yang ceria. Di balik kalimat ‘aku baik-baik saja’ yang diucapkan dengan cepat agar tidak ada yang sempat memeriksa kebenarannya.

Ada pula jenis kesepian yang lebih halus: kesepian di tengah keramaian. Berada di antara banyak orang tetapi tidak merasa dikenal oleh satu pun di antara mereka. Bicara banyak tetapi tidak pernah benar-benar berkata yang ingin dikatakan. Tertawa di foto bersama, tetapi menangis di dalam kamar yang pintunya terkunci. Kesepian jenis ini tidak terlihat dari luar. Ia hanya terasa dari dalam, dan itulah yang membuatnya begitu berat ditanggung sendiri.

โงย  โง

Barang siapa mengenal dirinya, ia tidak akan pernah benar-benar sendirian. Dan barang siapa tidak mengenal dirinya, ia akan tetap kesepian meski dikelilingi oleh seribu orang.

โ€” Tradisi tasawuf Islam, dari para sufi klasik

 

Apa yang sesungguhnya kita rindukan ketika kesepian? Bukan sekadar kehadiran fisik orang lain. Yang kita rindukan adalah dikenali. Dimengerti. Didengar tanpa perlu berpura-pura. Diterima dengan segala kekurangan yang tidak pernah kita posting di media sosial. Kita merindukan tempat di mana kita tidak perlu menjadi versi terbaik diri kita setiap saat, karena versi biasa kita pun sudah cukup dicintai.

Membangun hubungan semacam itu memerlukan hal-hal yang tampaknya sudah semakin langka: waktu yang tidak dipotong-potong oleh notifikasi, keberanian untuk jujur tentang keadaan diri yang sebenarnya, dan kesediaan untuk hadir secara penuh bagi orang lain bahkan ketika layar kita jauh lebih menarik. Keintiman tidak tumbuh dari koneksi yang efisien. Ia tumbuh dari waktu yang dihabiskan bersama, termasuk waktu yang tampak ‘tidak produktif’ karena hanya duduk bersama tanpa agenda.

Untuk masyarakat dan pemerintah, ini bukan masalah yang bisa diselesaikan hanya dengan aplikasi atau program intervensi. Ini soal merancang ulang cara kita hidup bersama: ruang publik yang mengundang perjumpaan alami, ritme kerja yang memberi ruang untuk kehidupan sosial yang nyata, sekolah yang mengajarkan cara berteman dan mempertahankan persahabatan sebagai keterampilan hidup yang serius.

Dan untuk kita masing-masing: mungkin langkah pertama yang paling sederhana adalah menelepon seseorang yang sudah lama tidak kita hubungi. Bukan mengirim pesan singkat. Menelepon, mendengar suaranya, bertanya bukan hanya ‘apa kabar?’ tetapi ‘sungguh, bagaimana keadaanmu?’ Lalu cukup sabar untuk mendengar jawabannya yang sebenarnya.

Kita tidak bisa mengobati epidemi kesepian dengan teknologi yang lebih canggih. Kita hanya bisa mengobatinya dengan hal yang paling tua dalam sejarah manusia: kehadiran yang sungguh-sungguh, satu sama lain.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *