Beranda / Olahraga / Ketika Pendidikan Melahirkan Gelar, Bukan Keahlian

Ketika Pendidikan Melahirkan Gelar, Bukan Keahlian

Ijazah bisa digantung di dinding dan mengumpulkan debu bersama-sama dengan waktu. Tetapi keahlian yang sesungguhnya hidup di tangan, di kepala, dan di nurani seseorang.

 

Ada ironi yang tumbuh dengan sangat tenang di tengah-tengah kita, begitu tenang sehingga kita hampir tidak lagi menyadarinya: negeri ini semakin banyak melahirkan sarjana, sementara persoalan nyata di sekitarnya semakin sulit menemukan orang yang bisa menyelesaikannya. Ini bukan tuduhan. Ini undangan untuk merenung bersama tentang tujuan sesungguhnya dari pendidikan.

Pendidikan pada mulanya adalah proyek kemanusiaan yang sangat mulia. Ia lahir dari keyakinan bahwa manusia dapat dibebaskan dari kebodohan, dari kepengecutan, dari keterbatasan cara pandangโ€”melalui proses belajar yang sungguh-sungguh. Guru-guru besar dalam sejarah peradaban, dari timur maupun barat, dari pesantren maupun universitas, mereka tidak sedang mengajar agar muridnya lulus ujian. Mereka sedang membentuk cara manusia memandang dunia, memecahkan masalah, dan menanggung tanggung jawab.

Tetapi perlahan, di banyak tempat dan banyak sistem, pendidikan mengalami pergeseran yang halus namun fundamental. Ia berubah dari proses pembentukan manusia menjadi proses produksi lulusan. Dari pembebasan nalar menjadi pengisian daftar hadir. Dari tempat tumbuhnya pertanyaan menjadi tempat dihafalkanya jawaban. Dan hasilnya bisa kita saksikan setiap hari.

Lulusan datang ke dunia kerja dengan transkrip yang penuh angka baik, tetapi kesulitan menulis sebuah memo yang jelas. Mereka bisa menghafal teori manajemen tetapi kebingungan saat harus mengambil keputusan dalam tekanan. Mereka tahu nama-nama tokoh sejarah tetapi tidak tahu bagaimana membaca situasi dan bersikap di dalamnya. Pengetahuan mereka banyak, tetapi kecakapanโ€”kemampuan menggunakan pengetahuan itu dalam kehidupan yang konkret dan tidak selalu terdugaโ€”sering masih sangat tipis.

Di sisi lain, ada orang-orang yang tidak pernah menyelesaikan pendidikan formal yang tinggi, namun mampu bekerja dengan sangat efektif, adaptif, dan dapat diandalkan. Bukan karena mereka lebih pintar, tetapi karena mereka lebih terlatih menghadapi kenyataan. Hidup telah menjadi guru merekaโ€”guru yang tidak pernah memberi nilai, tetapi selalu memberi konsekuensi.

Sistem pendidikan kita terlalu lama memberi penghargaan pada tipe kecerdasan yang sempit: hafalan, kecepatan mengerjakan soal, kepatuhan pada prosedur. Anak yang mempertanyakan cara guru mengajar dianggap nakal. Murid yang lebih suka membuat proyek daripada menghafal rumus dianggap tidak serius. Padahal kejujuran intelektual dan keberanian untuk tidak pura-pura tahu adalah dua kualitas yang paling dibutuhkan di dunia nyataโ€”sebuah dunia yang hampir tidak pernah datang dalam format soal pilihan ganda.

Kita juga telah membangun budaya gelarisme yang bisa menjadi perangkap. Orang berlomba-lomba untuk memiliki gelarโ€”bukan karena mereka haus ilmu, tetapi karena mereka haus pengakuan. Gelar adalah tanda perjalanan yang telah ditempuh, bukan jaminan tentang siapa seseorang dan apa yang sesungguhnya mampu ia lakukan.

Sementara itu, dunia bergerak dengan kecepatan yang tidak memberi banyak ruang untuk berdiam diri. Kecerdasan buatan menggeser pekerjaan-pekerjaan yang dulu hanya bisa dilakukan manusia terdidik. Pekerjaan baru bermunculan dengan nama-nama yang bahkan tidak ada dalam kamus akademik sepuluh tahun lalu. Dalam situasi seperti ini, satu-satunya ‘ijazah’ yang benar-benar relevan adalah kemampuan belajar ulangโ€”kemampuan untuk melepaskan apa yang sudah kita ketahui bila ternyata ia tidak lagi berguna, dan membangun kecakapan baru dengan kecepatan yang memadai.

Yang perlu berubah bukan sekadar kurikulum. Yang perlu berubah adalah filsafat pendidikan itu sendiri. Lebih banyak proyek nyata yang memberi pengalaman berpikir dalam kompleksitas. Lebih banyak ruang untuk gagal dan belajar dari kegagalan tanpa ancaman dipermalukan. Guru dan dosen adalah pilar yang tidak bisa diabaikanโ€”jika mereka kehabisan waktu untuk formulir administrasi berlapis, kapan mereka sempat sungguh-sungguh hadir untuk muridnya?

Bagi mereka yang masih di bangku sekolah atau kampus: jangan puas menjadi kolektor gelar. Jadilah pemburu keahlian. Bangun portofolio yang membuktikan apa yang bisa Anda kerjakan, bukan hanya map ijazah yang menunjukkan di mana Anda pernah duduk. Bangsa yang maju bukan bangsa dengan jumlah lulusan terbanyakโ€”ia adalah bangsa yang warganya mampu berpikir jernih, bekerja terampil, bersikap luhur, dan terus belajar sepanjang hayat. Keahlian itulah yang membuka pintuโ€”bukan pigura yang dipajang di ruang tamu.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *