Kemarin aku bijaksana, maka aku ingin mengubah dunia. Hari ini aku arif, maka aku mengubah diriku sendiri.
โ Jalal ad-Din Rumi
Ada sesuatu yang sangat tua dalam hasrat manusia untuk membunuh sesamanya. Dan ada sesuatu yang sama tuanya, kadang lebih tua, dalam hasrat manusia untuk berdamai. Sejarah peradaban adalah pergulatan antara dua hasrat ini, dua api yang masing-masing mengklaim dirinya sebagai yang lebih manusiawi.
Hari ini, di lebih dari dua puluh titik di seluruh bumi, manusia sedang berperang. Bukan sebagai metafora. Bukan sebagai film. Secara harfiah: ada peluru yang ditembakkan, ada bom yang dijatuhkan, ada orang yang mati dan meninggalkan lubang yang tidak bisa ditambal oleh komitmen diplomatik mana pun. Gaza. Sudan. Myanmar. Ukraina. Yaman. Sahel. Dan beberapa lagi yang namanya jarang muncul dalam berita karena para korbannya tidak cukup menarik secara geopolitik untuk dijadikan tajuk utama.
Dunia lelah. Itu bukan lemah. Itu wajar. Ada batas berapa lama jiwa manusia dapat menyerap gambar-gambar kehancuran sebelum ia mulai melindungi dirinya sendiri dengan cara yang paling mudah: dengan tidak lagi merasakan. Dengan menyimpulkan bahwa ini sudah selalu begini dan akan selalu begini. Dengan berkata bahwa manusia memang pada dasarnya seperti itu.
Tetapi keputusasaan adalah kemewahan yang tidak bisa kita izinkan diri sendiri untuk terlalu lama berada di dalamnya.
Al-Farabi, filsuf Islam abad kesepuluh yang membayangkan kota yang utama, al-Madinah al-Fadilah, percaya bahwa perdamaian bukan hanya absennya perang. Ia adalah kondisi di mana manusia dapat mencapai kebahagiaan sejatinya bersama-sama, di mana kecerdasan dan moralitas bekerja seiring, di mana pemimpin dan yang dipimpin sama-sama memburu kebaikan tertinggi. Visi itu mungkin tampak naif di zaman ini. Tetapi tidak ada perubahan besar dalam sejarah yang dimulai dari orang-orang yang tidak berani membayangkan sesuatu yang lebih baik dari kenyataan yang ada.
โงย โง
Perang bermula dari dalam hati manusia; oleh karena itu, di dalam hati manusia pulalah pertahanan perdamaian harus dibangun.
โ Pembukaan Konstitusi UNESCO, 1945
Perang hampir tidak pernah dimulai dari rakyat biasa yang bangun pagi dan memutuskan ingin membunuh tetangganya. Ia hampir selalu dimulai dari keputusan-keputusan yang dibuat di ruangan-ruangan yang jauh dari garis depan, oleh orang-orang yang tidak akan ikut bertempur dan yang tidak akan kehilangan anak-anaknya dalam pertempuran itu. Jarak antara yang memutuskan perang dan yang menanggung perang adalah salah satu ketidakadilan paling konsisten dalam sejarah manusia.
Yang membuat perdamaian sulit bukan karena manusia tidak menginginkannya. Hampir semua orang, dari hampir semua tradisi budaya dan agama, menginginkan hidup yang damai. Yang membuat perdamaian sulit adalah bahwa perang sering sangat menguntungkan bagi sebagian kecil pihak: industri persenjataan, elit politik yang memerlukan musuh eksternal untuk menyatukan basis pendukungnya, kelompok-kelompok yang mengambil untung dari ekonomi perang. Perdamaian, sayangnya, tidak semenguntungkan itu bagi mereka.
Kita yang jauh dari medan perang memiliki tanggung jawab yang berbeda-beda tetapi nyata. Konsumen yang membeli produk dari perusahaan yang menjual senjata kepada pihak yang terbukti melakukan kejahatan perang. Pemilih yang memilih pemimpin yang mengekspor kebijakan yang memperumit perdamaian. Warga yang membayar pajak kepada pemerintah yang mendanai konflik. Tidak ada di antara kita yang benar-benar bersih dari rantai ini, dan kesadaran itu bukan untuk menghukum diri sendiri, melainkan untuk mulai membuat pilihan yang berbeda.
Perdamaian tidak turun begitu saja dari langit seperti hadiah yang tidak perlu diusahakan. Ia dibangun, satu pertemuan, satu negosiasi, satu pengampunan, satu keputusan untuk tidak membalas, satu kesediaan untuk mendengar pihak yang kita benci pada satu waktu. Itu kerja yang sangat berat dan sangat lambat dan sering tidak mendapat tepuk tangan. Tetapi ia adalah satu-satunya jenis kerja yang benar-benar mengubah arah.
Dunia yang lelah perang tidak memerlukan idealisme yang naif. Ia memerlukan realisme yang lebih dalam: kesadaran bahwa tidak ada kemenangan militer yang benar-benar menyelesaikan akar persoalan, bahwa setiap perdamaian yang langgeng dalam sejarah dibangun bukan hanya dengan menghentikan tembakan melainkan dengan berani memulai percakapan yang menyakitkan, dan bahwa musuh terbesar perdamaian bukan senjata di tangan lawan, melainkan ketidakmauan untuk membayangkan bahwa lawan pun adalah manusia.
Rumi menulis: ‘Di luar gagasan tentang yang salah dan yang benar, ada sebuah padang. Aku akan menemuimu di sana.’ Padang itu bukan tempat di mana perbedaan dihapuskan. Ia adalah tempat di mana perbedaan tidak lagi dijadikan alasan untuk saling menghancurkan. Mencapai padang itu adalah proyek kemanusiaan yang paling mendesak di zaman ini. Dan ia dimulai, seperti semua hal besar, dari keberanian satu demi satu orang untuk memilih jalan yang berbeda.








