Beranda / Peristiwa / Harga BBM Naik, Siapa Menanggung Biaya Krisis?

Harga BBM Naik, Siapa Menanggung Biaya Krisis?

Di balik angka yang berubah di papan SPBU, ada cerita yang jauh lebih besar dari sekadar selisih rupiah per liter. Ada sopir angkutan yang menghitung ulang setoran. Ada pedagang pasar yang menimbang apakah harga cabai atau harga pelanggannya yang harus dikorbankan. Ada ibu rumah tangga yang membuka dompet tipis lalu menutupnya kembali dengan perasaan yang lebih tipis lagi. Inilah yang sering tidak terlihat dalam presentasi kebijakan energi: bahwa di balik setiap angka, selalu ada wajah.

BBM bukan sekadar komoditas. Ia adalah nadi yang mengaliri hampir seluruh sendi ekonomi rakyatโ€”dari dapur hingga jalanan, dari ladang hingga pasar, dari pagi yang memulai perjalanan hingga malam yang mengakhirinya. Karena itu, kenaikan harga BBM bukan sekadar penyesuaian teknis. Ia adalah keputusan yang memiliki berat moral, dan setiap keputusan bermoral harus dipertanggungjawabkan kepada mereka yang paling merasakannya.

Pemerintah tidak selalu salah ketika mengambil keputusan semacam ini. Harga minyak dunia bergerak di luar kendali siapa pun. Beban subsidi memang nyata dan menekan ruang fiskal yang dibutuhkan untuk banyak hal lain. Argumen teknokratis memiliki logikanya sendiri, dan kita perlu cukup jujur untuk mengakuinya. Tetapi masyarakat tidak hidup di dalam kertas kerja kebijakan. Mereka hidup di dalam kenyataan yang bergerak setiap hari.

Dalam kenyataan itu, efek kenaikan BBM tidak pernah berhenti pada satu titik. Ia mengalir seperti air yang menembus tanah: ongkos transportasi naik, harga sembako mengikuti, daya beli melemah, usaha kecil sunyi pembeli, lapangan kerja menyempit, dan optimisme masyarakat perlahan menipis. Bukan karena satu keputusan, melainkan karena rantai panjang yang bergerak dalam diamโ€”dan yang paling keras memukul selalu mereka yang tidak punya bantalan untuk menyerapnya.

Ada pula yang jarang dibicarakan secara serius: inflasi psikologis. Begitu kabar kenaikan harga bahan bakar menyebar, sebagian pelaku pasar segera menaikkan harga bahkan sebelum biaya riil mereka berubah. Ada ketakutan, ada antisipasi, adaโ€”mengapa kita tidak menyebutnya dengan jujurโ€”oportunisme yang menyamar sebagai kehati-hatian. Masyarakat pun menanggung dua lapisan beban sekaligus: kenaikan yang nyata dan kenaikan yang dirasakan, dan keduanya sama-sama menguras.

Pertanyaan yang paling adil bukanlah apakah harga BBM harus naik atau tidak. Pertanyaan yang paling adil adalah: siapa yang akan paling berat menanggungnya, dan apa yang negara siapkan untuk melindungi mereka? Keluarga berpendapatan rendah tidak memiliki ruang manuver. Mereka tidak bisa menunda makan, tidak bisa mengganti moda transportasi ke yang lebih efisien, tidak bisa memindahkan usaha mereka ke tempat yang lebih murah. Yang bisa mereka lakukan hanyalah menekan kualitas konsumsi, mengurangi porsi, atau berutang kecil-kecilanโ€”dan berharap hari esok sedikit lebih ringan.

Maka kebijakan energi yang sejati tidak boleh berhenti pada penyesuaian harga. Ia harus diiringi perlindungan sosial yang cepat, tepat, dan bermartabat. Bantuan yang mempermalukan penerimanya bukan bantuan, itu pertunjukan. Subsidi yang salah sasaran bukan keberpihakan, itu kebocoran. Negara yang bijak memastikan beban tidak selalu jatuh ke pundak yang samaโ€”pundak mereka yang tidak punya pilihan lain.

Lebih jauh lagi, kita harus berani melihat akar persoalan ini. Ketergantungan tinggi pada bahan bakar fosil adalah warisan struktural yang belum kita selesaikan. Selama transportasi publik belum nyaman dan terjangkau, selama logistik nasional masih boros dan berliku, selama energi alternatif masih lebih banyak di retorika daripada di kenyataanโ€”kita akan terus hidup dalam kerentanan yang berulang. Solusinya bukan memilih antara naik atau tidak naik, melainkan membangun ketahanan energi sebagai proyek bangsa yang sungguh-sungguhโ€”bukan sekadar tema seminar atau janji kampanye.

Negara yang adil bukan negara yang tidak pernah mengambil keputusan berat. Negara yang adil adalah negara yang memastikan keputusan berat tidak berubah menjadi penderitaan yang ditanggung sepihak. Karena di balik setiap liter yang terbakar di jalanan ini, ada seseorang yang sedang dalam perjalanan pulangโ€”membawa nafkah, membawa lelah, dan membawa harapan bahwa keluarga yang menunggu di rumah akan baik-baik saja.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *