Beranda / Nasional / Demokrasi yang Sedang Pilek

Demokrasi yang Sedang Pilek

 

Orang-orang yang berkuasa selalu merasa bahwa cara mereka mendapatkan dan menjalankan kekuasaan adalah yang paling benar dan paling indah.

โ€” Ibn Khaldun, Muqaddimah, Abad ke-14

 

Demokrasi sedang pilek. Bukan mati. Bukan koma. Pilek. Hidungnya mampet, suaranya serak, dan ia sering bersin di saat yang paling tidak tepat, yaitu tepat di depan cermin. Tetapi ia masih bisa berjalan, masih bisa bicara, dan masih ngotot bahwa ia baik-baik saja padahal semua orang bisa melihat ia butuh istirahat dan banyak minum air putih.

Di berbagai penjuru dunia, kita menyaksikan pemandangan yang kurang lebih serupa. Pemilu diselenggarakan, kotak suara hadir, angka dihitung. Lalu pemenangnya mengumumkan bahwa ia adalah suara rakyat, meskipun setengah rakyat tidak memilihnya. Yang kalah mengumumkan bahwa hasilnya dicurangi, meskipun buktinya sering tidak lebih kuat dari perasaan tidak rela. Media meliput semua ini dengan semangat yang kadang lebih menyerupai siaran pertandingan olahraga daripada laporan tentang masa depan sebuah bangsa.

Demokrasi sejak awal adalah ide yang ambisius. Ia percaya bahwa rakyat, secara kolektif, lebih bijak dari raja mana pun. Itu ide yang indah. Masalahnya, rakyat yang bijak memerlukan informasi yang baik, deliberasi yang sehat, dan waktu untuk merenung. Yang sering kita miliki sekarang adalah: berita yang bergerak lebih cepat dari kemampuan verifikasi, percakapan publik yang berlangsung dalam format 280 karakter, dan pemilu yang berlangsung dalam suasana pertunjukan di mana penampilan lebih menentukan dari program.

Muncullah pemimpin-pemimpin baru yang sangat pandai membaca kegundahan rakyat, lalu menjualnya kembali kepada mereka sebagai solusi. Mereka berkata: ‘Elit itu korup!’ sambil mengumpulkan donasi dari korporasi terbesar. Mereka berkata: ‘Rakyat diabaikan!’ sambil mengabaikan parlemen yang rakyat pilih. Mereka berkata: ‘Hukum harus ditegakkan!’ sambil memastikan hukum tidak berlaku untuk mereka sendiri. Populisme adalah seni mempertunjukkan kesinisan terhadap kekuasaan sambil rakus merebutnya.

Dan rakyat? Rakyat sering kelelahan. Kelelahan oleh janji yang tidak ditepati, oleh sistem yang terasa jauh dari kehidupan sehari-hari mereka, oleh rasa bahwa suara mereka dibutuhkan saat kampanye lalu tidak lagi didengar setelah pelantikan. Dalam kelelahan itulah muncul godaan untuk menyerahkan segalanya kepada seseorang yang bersuara paling keras dan paling berani berjanji tidak masuk akal. Setidaknya ia terasa jujur tentang betapa marahnya ia, meski tidak jujur tentang apa pun yang lain.

โงย  โง

Tetapi menyerah pada demokrasi bukan solusi. Sejarah dengan sangat sabar dan berdarah-darah telah mengajarkan bahwa alternatifnya hampir selalu lebih buruk. Otokrasi yang efisien ternyata efisien hanya untuk kepentingan yang mengendalikannya. Teknokrasi yang sempurna di atas kertas selalu menghadapi kenyataan yang berantakan di bawahnya. Dan karisma seorang manusia yang dipercaya segalanya selalu lebih ringkih dari yang tampak, sebab ia bersandar pada satu leher.

Yang dibutuhkan bukan mengganti demokrasi, melainkan memperbaikinya dari dalam. Pendidikan kewarganegaraan yang sungguh-sungguh, bukan sekadar hafalan tentang pasal-pasal undang-undang. Pers yang cukup kuat dan independen untuk menanggung biaya meliput yang tidak populer. Lembaga-lembaga yang tidak mudah digoyahkan oleh satu siklus pemilu. Dan warga yang cukup melek untuk tidak menyerahkan seluruh penilaiannya kepada algoritma atau juru bicara favoritnya.

Demokrasi adalah sistem yang lambat dan berisik dan sering membuat frustrasi. Itu memang sifatnya. Sebab di dalamnya banyak suara harus didengar, banyak kepentingan harus ditimbang, banyak kesalahan harus diakui secara terbuka. Dalam kebisingan itulah justru tersembunyi kelebihannya: ia memaksa kekuasaan untuk terus mempertanggungjawabkan dirinya.

Demokrasi yang pilek masih lebih baik dari otokrasi yang sehat. Yang perlu kita lakukan adalah memberinya waktu untuk sembuh, sambil kita sendiri tidak berhenti menjadi warga yang aktif, kritis, dan cukup sabar untuk tidak menyerahkan masa depan bersama kepada siapa pun yang berteriak paling keras di beranda media sosial.

Tag:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *