Janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi setelah ia diperbaiki. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu beriman.
ā Al-Quran, Surah Al-A’raf: 56
Negara-negara miskin yang paling sedikit menyumbang emisi adalah yang paling keras menanggung akibatnya. Petani kecil kehilangan musim tanam yang bisa diprediksi. Pulau-pulau rendah tenggelam perlahan. Masyarakat adat yang menjaga hutan selama berabad-abad kehilangan tanah mereka bukan karena bencana alam, melainkan karena keputusan yang dibuat jauh di kota-kota yang tidak pernah kehilangan apa-apa.
Krisis iklim adalah krisis keadilan. Ia memperlihatkan siapa yang menanggung beban dari pilihan-pilihan yang dibuat oleh siapa. Dan bila kita tidak membingkainya dalam konteks keadilan itu, semua solusi teknis akan tetap tidak lengkap.
Bagi kita yang hidup di kepulauan seperti Indonesia, ini bukan isu abstrak tentang es kutub yang jauh. Ini soal nelayan yang tidak bisa lagi membaca tanda-tanda alam seperti nenek moyangnya. Ini soal petani yang gagal panen karena pola hujan berubah. Ini soal kota-kota pesisir yang mulai memikirkan kemungkinan tenggelam bukan lagi sebagai fiksi ilmiah.
Apa yang bisa dilakukan satu orang? Lebih dari yang sering kita anggap, tetapi tidak sebesar yang sering kita harap. Pilihan hidup individual penting. Tetapi yang jauh lebih penting adalah pilihan kolektif: siapa yang kita dukung untuk memimpin, sistem ekonomi apa yang kita biarkan terus berjalan, bisnis apa yang kita beri kuasa dengan uang dan loyalitas kita. Krisis iklim diselesaikan dengan perubahan sistem, bukan hanya perubahan tas belanja.
Bumi tidak memerlukan penyelamat yang romantis. Ia memerlukan manusia yang cukup rendah hati untuk mengakui bahwa mereka bukan pemilik bumi, melainkan tamu yang sudah terlalu lama berlaku seperti tuan rumah yang rakus.








